Bahasa Indonesia Semester 2


Memproduksi Teks Anekdot


1 Pengertian Memproduksi Teks Anekdot 


Memproduksi merupakan kegiatan pembelajaran menulis yang menghasilkan sebuah karya tertentu berdasarkan pengamatan. Sesuai dengan yang sudah dipaparkan bahwa pengertian memproduksi Teks Anekdot adalah menghasilkan produk atau mengeluarkan produk berbentuk cerita yang lucu yang terdapat nasihat dan sindiran.
Produk yang dihasilkan disini adalah produk yang berkaitan dengan menulis.lambang-lambang grafik yang menggambarkan suatu bahasa yang dipahami oleh seseorang, sehingga orang lain dapat membaca lambang-lambang grafik tersebut kalau mereka memahami bahasa dan gambaran grafik itu.


2 Langkah-langkah Menulis Teks Anekdot

menyatakan bahwa langkah-langkah teks anekdot sebagai berikut.

a.    Menentukan topik yang menggelitik (lucu) dan mengandung hikmah atau pembelajaran tertentu.
b.   Mengumpulkan bahan dengan observasi lapangan, imajinasi, membaca buku.
c.    Menentukan subtopik.
d.   Menyusun kerangka anekdot dengan memanfaatkan subtopic yang tersedia.
e.    Mengembangkan kerangka yang telah dibuat menjadi anekdot yang lengkap.

3 Teks Anekdot

Anekdot merupakan teks yang lucu, berkarakter dan di dalamnya mengan- dung kritikan yang membangun. Beberapa para ahli mengemukan pengertian anekdot sebagai berikut.
 Selain itu Tim Studi Edukasi (2013:5) menyatakan bahwa teks anekdot adalah cerita lelucon atau humor yang didalamnya terkandung pelajaran ataupun nasihat.
Tujuannya untuk menyindir atau mengingatkan seseorang  tentang suatu kebenaran.  
Berdasarkan pengertian anekdot yang sudah dipaparkan, anekdot merupakan cerita yang lucu dan didalamnya terdapat sebuah sindiran. Penulis menyimpulkan bahwa anekdot adalah cerita humor singkat yang mempunyai tujuan untuk menyindir dan berisikan nasihat.

4 Struktur Teks Anekdot

Dalam menulis teks anekdot harus menerapkan struktur penulisan dengan baik sesuai dengan susunan yang sudah ditentukan, penulisan teks anekdot mempunyai struktur anekdot berupa cerita ataupun narasi singkat. 

  Kemindikbud (2013:194) menyatakan bahwa struktur teks anekdot sebagai berikut.
a.    Abstraksi adalah berupa isyarat akan apa yang diceritakan berupa kejadian yang tidak lumrah, tidak biasa, aneh, atau berupa rangkuman atas apa yang akan diceritakan atau dipaparkan teks;
b.    Orientasi adalah pendahuluan atau pembuka berupa pengenalan tokoh, waktu dan tempat;
c.    Krisis adalah pemunculan masalah;
d.    Reaksi adalah tindakan atau langka yang diambil untuk merespon masalah.
e.    Koda adalah perubahan yang terjadi pada tokohan pelajaran yang dapat dipetik dari cerita, dan
f.     Reorientasi yaitu ungkapan yang menunjukan cerita sudah berakhir.
Berdasarkan struktur teks anekdot yang sudah dipaparkan mengenai abstraksi, orientasi, krisis, reaksi, koda, dan reorientasi merupakan kesatuan yang utuh dalam penulisan teks anekdot. Penulis menyimpulkan bahwa dalam penulisan teks anekdot harus menggunakan struktur yang telah ditentukan dan sesuai diantaranya kejadian yang masuk akal, pengenalan situasi, permasalahan, tindakan masalah, dan berdasarkan fakta supaya dapat dijadikan pelajaran, nasihat untuk khalayak.

5. Ciri kebahasaan Teks Anekdot

Dalam teks anekdot terdapat ciri-ciri kebahasaan yang membedakan teks ini dengan teks-teks yang lain. Kemendikbud (2013:111) menyatakan bahwa ciri kebahasaan dalam teks anekdot sebagai berikut.
a.    Disajikan dalam bahasa yang lucu.
Penyajian bahasa yang lucu adalah bahasa yang digunakan dalam penulisan teks anekdot dapat dipelesetkan menjadi bahasa yang lucu.
b.    Berisi peristiwa-peristiwa yang membuat jengkel
Maksud dari peristiwa yang membuat jengkel adalah cerita dalam teks anekdot itu dibuat konyol bagi partisipan yang mengalaminya. Mengenai ciri kebahasaan teks anekdot, pemilihan bahasa yang lucu sangat diperlukan. 
     
Dapat disimpulkan bahwa ciri kebahasaan dalam menulis teks anekdot adalah penyajian yang lucu dan peristiwa yang nyata, melibatkan tokoh terkenal yang mengalami modifikasi kearah fiktif yang membuat jengkel bagi pembacanya atau konyol tetapi di dalamnya ada kritik yang membangun yang disampaikan oleh penulis kepada pembaca berupa sindiran.

6. Kaidah Penulisan Teks Anekdot

Dalam penulisan teks anekdot harus menggunakan kaidah penulisan yang tepat agar teks anekdot yang dihasilkan menjadi sebuah teks yang tepat.  
Kemendikbud (2013:112) mengatakan bahwa kaidah penulisan teks anekdot sebagai berikut.
a.    Menggunakan pertanyaan retorika, seperti: apakah kamu tahu?
b.    Menggunakan kata sambung (konjungsi) waktu, seperti: kemudian, setelah itu, dll.
c.    Menggunakan kata kerja seperti: pergi, tulis, dll.
d.    Menggunakan kalimat perintah.
 Pada penulisan teks anekdot harus memperhatikan kaidah penulisan yang sudah dipaparkan seperti menggunakan pertanyaan retorika, menggunakan kata sam- bung, menggunakan kata kerja, dan menggunakan kalimat perintah. Sedangkan menurut Tim Cerdas Komunika (2013:5) menyatakan bahwa kaidah penulisan dalm teks anekdot harus berupa lelucon dan mengandung kebenaran tertentu. Jadi, kaidah penulisan teks anekdot di dalam ceritanya harus berupa lelucon dan mengandung kebenaran tertentu.
Sesuai dengan apa yang sudah dipaparkan mengenai kaidah penulisan teks anekdot, penulis menyimpulkan bahwa kaidah penulisan teks anekdot adalah ketepatan menggunakan kalimat, penulisannya harus berupa lelucon, dan mengandung kebenaran tertentu.

7. Unsur-unsur Teks Anekdot

menyatakan bahwa unsur-unsur sebagai berikut.

a.    Tema Cerita
     Tema merupakan gagasan umum yang menjadi dasar pengembangan seluruh ceri-
ta.
b.    Tokoh
Tokoh adalah pelaku yang ada dalam cerita.
c.    Latar
Latar dibedakan dalam 3 unsur pokok, yaitu:
1)   Latar tempat, mengacu pada lokasi terjadinya peristiwa yang diceritakan dalam cerita;
2)   Latar waktu, berhubungan dengan waktu terjadinya peristiwa yang diceritakan dalam cerita; dan.
3)   Latar sosial, mengacu pada hal-hal yang berhubungan dengan status social tokoh yang diceritakan, serta perilaku sosial masyarakat di suatu tempat yang dijelaskan dalam cerita.
d.    Sudut pandang
Sudut pandang (point of view) merupakan teknik yang diipilih pencerita untuk mengemukakan gagasan dan ceritanya. Sudut pandang dalam cerita terdiri dari dua macam, yaitu pesona (orang) pertama dan pesona (orang) ketiga. Sudut pandang orang pertama terbagi atas aku sebagai contoh utama dan aku sebagai contoh tambahan. Sedangkan sudut pandang orang ketiga dibagi menjadi pencerita serba tahu dan pencerita terbatas (pengamat).
e.    Gaya bahasa dan nada
Bahasa dalam cerita berfungsi sebagai penyapa gagasan, sedangkan nada merupakan ekspresi pencerita.

8.  Jenis-jenis Teks Anekdot

Luxemburg dkk. (1984:160), menyatakan bahwa jeni-jenis teks anekdot, sebagai berikut.
a.    Artikel
 Anekdot artikel bias berbentuk format naratif yang mana dalam ceritanya memiliki kejelasan tokoh, alur, peristiwa, dan latar. Karena artikel anekdot juga menceritakan seseuatu hal atau tokoh faktual/terkenal.
b.    Cerpen
 Bentuk anekdot berupa cerpen biasanya hanya menceritakan sesuatu hal yang lugas. Artinya cerita tersebut tidak berbelit-belit, karena jika anekdot disajikan dalam bentuk lugas maka pendengar atau pembaca lebih cepat mengerti isi lelucon cerita tersebut. Anak dari itu anekdot jenis cerpen lebih singkat.
c.    Teks dialog
 Teks dialog merupakan sarana primer. Maksudnya, teks dialog merupakan situasi bahasa utama. Teks dialog di dalam drama merupakan bagian terpenting dalam sebuah drama, dan sampai taraf tertentu ini juga berlaku bagi monolog-monolog.
 Oleh karena itu teks anekdot bisa berupa teks dialog yang dalam formatnya disebut anekdot dalm format dramatik yang mempunyai petunjuk lakon (karmagung/ laku-
an).

Komentar